Talak dan Macam-macamnya

Sesungguhnya keharmonisan dalam rumah tangga adalah salah satu tujuan yang diinginkan oleh Islam. Akad nikah yang diucapkan oleh pasangan laki-laki dan perempuan diharapkan akan bertahan selama-lamanya hingga ajal menjemput keduanya, sehingga suami dan istri dapat membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Karenanya ikatan perkawinan antara suami dan istri merupakan ikatan yang paling suci dan paling kokoh.
Akan tetapi dalam menjalankan bahtera rumah tangga tentu saja jalannya tidak semulus yang diharapkan dari awal pernikahan, akan ada cobaan dan ujian yang melanda kedua pasangan. Dalam Islam, hal yang paling dicintai Allah tentu saja kedamaian antara pasangan suami dan istri. Namun, jika masalah tersebut menjadi sebuah perselisihan yang tidak dapat lagi dipersatukan, maka Islam juga tidak menutup rapat-rapat pintu perpisahan bagi kedua pasangan sebagaimana agama Nasrani menutup pintu perceraian bagi pemeluknya.
Suatu perkawinan dapat putus dan berakhir karena berbagai hal, antara lain karena terjadinya talaq yang dijatuhkan oleh suami terhadap istrinya, atau karena perceraian yang terjadi diantara keduanya, atau karena sebab-sebab yang lainnya.

Salah satu penyebab putus perkawinan itu adalah talak,
Secara garis besar ditinjau dari boleh atau tidaknya rujuk kembali, talak dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Talak Raj’i
2. Talak Bain
Dari dua macam talak tersebut, kemudian bisa dilihat dari beberapa segi antara lain:
a. Dari segi masa iddah, ada tiga, yaitu:
a) Iddah haid atau suci
b) Iddah karena hamil
c) Iddah dengan bulan
b. Dari segi keadaan suami, ada dua:
a) Talak mati
b) Talak hidup
c. Dari segi waktu kejadinnya talak terbagi menjadi dua,
a) Talak Munajjas
Talak munajjas adalah talak yang tidak digantungkan kepada syarat dan tidak pula disandarkan kepada suatu masa yang akan datang, tetapi talak yang dijatuhkan pada saaat diucapkannya talak itu sendiri.
b) Talak Mua’llaq
Talak mua’llaq adalah talak yang jatuhnya disandarkan pada suatu masa yang akan datang. Misalnya, suami berkata kepada istrinya, “engkau tertalak besok atau engkau tertalak yang akan datang”. Istilah lain dari talak mua’llaq ini adalah ta’lik talak.
d. Dari segi baik atau tidaknya, ada dua:
a) Talak Sunni
Talak sunni adalah talak yang terjadi sesuai dengan ketentuan agama, yaitu seorang suami mentalak istrinya yang telah dicampuri dengan sekali talak dimasa bersih dan belum ia sentuh kembali dimasa bersihnya itu berdasarkan firman Allah SWT yang berbunyi,
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik”(QS. Al Baqarah: 229)
Dikatakan sebagai talak sunni apabila mempunyai tiga syarat berikut,
1) Istri yang ditalak sudah pernah dikumpuli. Bila talak dijatuhkan pada istri yang belum pernah dikumpuli, maka tidak termasuk talak sunni.
2) Istri dapat segera melakukan iddah suci setelah ditalak.
3) Talak itu dijatuhkan ketika istri dalam keadaan suci.
b) Talak bid’iy
Talak bid’iy adalah talak yang dijatuhkan pada waktu dan jumlah yang tidak tepat. Talak bid’iy merupakan talak yang dilakukan bukan menurut petunjuk syariah, baik mengenai waktunya, maupun cara-cara menjatuhkannya.
Talak bid’iy tersebut antara lain,
1) Talak yang dijatuhkan terhadap istri pada waktu istri sedang dalam masa haid.
2) Talak yang dijatuhkan terhadap istri pada waktu istri dalam keadaan suci, tetapi sudah pernah dikumpuli suaminya ketika dia dalam keadaan suci tersebut.
e. Dari segi cara melakukannya, ada lima yaitu:
a) Talak dengan perkataan atau ucapan
Ucapan talak ada yang sharih dan ada yang kinayah. Kata-kata yang sharih artinya dapat dipahami maknanya, seperti “engkau saya cerikan.” Atau dengan kata lain yang menunjukkan arti talak.
b) Talak dengan kinayah
Sindiran atau kinayah disini harus mengandung makna cerai, misalnya “anti bain,” yang berarti engkau tidak menjadi istri, atau dengan ucapan “amruki biyadiki,” yang berarti persoalanmu ditanganku. Kata-kata tersebut mengandung makna pemberian hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan untuk melakukan sesuatu.
Talak dengan kinayah tidak jatuh kecuali dengan disertai niat. Apabila seseorang dengan tegas mentalak tetapi ia berkata bahwa: saya tidak berniat dan tidak bermaksud mentalak, maka tidak jatuh talaknya, karena kinyah mempunyai arti yang ganda (makna talak dan selain talak). Dan perkara yang memmbedakannya hanyalah niat dan tujuannya.
c) Talak dengan surat atau tulisan
Talak dengan tulisan atau lewat surat dianggap jatuh talaknya meskipun suami yang menulis surat itu dapat berbicara dan dapat mengucapkan talak, dengan syarat: tulisannya jelas dan tertentu, jelas artinya, dapat dibaca, dan jelas tujuannya . Misalnya, dalam lembaran kertas tersebut tertulis, “Hai fulanah, sekarang engkau saya ceraikan.”
d) Talak dengan menggunakan bahasa isyarat bagi tuna wicara
Bagi orang bisu, isyarat adalah alat untuk membuat orang lain memahami keinginannnya. Karena itu, isyarat sama seperti ucapan dalam menjatuhkan talak apabila isyarat itu dimaksudkan untuk mengakhiri ikatan perkawinan.
e) Talak dengan mengirim utusan
Apabila talak dapat dijatuhkan dengan ucapan yang sharih atau kinayah atau dengan tulisan, maka talak juga sah disampaikan oleh utusan yang diutus suaminya untuk menyampaikan kepada istrinya yang jauh kalau ia sudah diceraikan oleh suaminya. Utusan dalam hal ini, sama kedudukannya dengan suami yang menceraikannya, talaknya sah dan berlaku.

15 Responses

  1. jika talak cerai diucapkan oleh suami karena dipaksa oleh istri apakah talak tersebut sah atau tidak?

    • Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas pertanyaan yg antum ajukan…
      Para ulama sepakat bahwa orang yg waras akalnya, dewasa, serta bebas menentukan pilihannya (tidak terpaksa) adalah orang yang berhak menjatuhkan talak.
      Terpaksa disini berarti dia tidak punya pilihan dan tidak punya keinginan, sedangkan dalam agama, seseorang baru dibebani beban atau taklif jika ia bebas menentukan pilihan dan ikhtiar. sehingga jika dalam keadaan terpaksa, maka seseorang bebas dari taklif. Sebagaimana seseorang yang dipaksa masuk Islam maka islamnya tidak sah, begitu juga dengan talak. seorang suami yang dipaksa mengucapkan talak maka talaknya tidak sah.
      dalam sebuah hadist disebutkan, “Dima’afkan atas umatku kekeliruan, lupa , atau karena terpaksa.”
      pendapat diatas dipegang oleh Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Dawud bin Ali Al Zhairi.
      Akan tetapi ada juga ulama yang menyatakan bahwa talak dengan paksaan tetap jatuh, diantaranya adalah Abu Hanifah. Akan tetapi pendapat mereka tidak lebih kuat dari pendapat sebelumnya.
      Pada konsep perceraian dalam Islam, sebenarnya Islam memberikan peluang kepada istri untuk menuntut cerai kepada suaminya, dalam istilah Arab dikenal dengan nama “khulu’, sedangkan dalam istilah ala indonesia sering disebut dengan cerai gugat. Akan tetapi, seorang istri yang menggugat suaminya harus mempunyai alasan yang kuat untuk minta diceraikan, seperti ketidakmampuan suami memberikan nafkah lahir bathin, dll. Jika tanpa disertai alasan yang dibenarkan syara’ maka Allah akan melaknat istri yang menuntut cerai kepada sumainya tanpa sesuatu alasan apapun.
      sekian, terima kasih.

  2. berapa kali talak yang bisa dirujuki? dalilnya apa?

  3. mengapa talak tiga tidak dapat dirujuki?

    • sesuai dengan al Quran surat Al Baqarah ayat 230. talak tiga tidak dapat dirujuk lagi, tapi dapat dinikahi ulang lagi setelah mantan istri telah menikah lagi dengan laki-laki lain dan telah bercerai. dengan catatan pernikahan dan cerai dengan laki-laki lain tersebut tidak lah disengaja..
      Wallahu A’lam..

  4. thanks before abang ganteng :)

  5. bagaimana jika suami selama pernikahan bertahun -tahun tdk memberikan nafkah lahir dan jarang memberi nafkah batin kadang sampai 3 bln lamany dan istri tdk ridho dengan hal tersebut apakah dapat jatuh talak 1 secara langsung???

    • apabila suami tidak pernah memberikan nafkah selama bertahun-tahun, maka sesuai dengan UU perkawinan dan KHI. batasan suami meninggalkan istrinya adalah paling lama 2 tahun, jika istri tidak ridho maka dapat mengajukan gugat cerai kepada Pengadilan Agama dengan alasan ditinggalkan suami lebih dari 2 tahun berturut-turut.
      talak tidak jatuh langsung, namun harus melalui proses gugat cerai ke Pengadilan Agama terlebih dahulu. hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 116 Kompilasi Hukum Islam.
      Wallahu A’lam..

  6. bagaimana bila suami dalam keadaan emosi tanpa sadar dan tidak tahu bagaimana talak bisa terjadi.
    “suami berkata/menyurh pulang isteri kepada mertua apa itu dapat turun talak dikarenakan ketidak tahuannya.??
    Mohon ada jawabannya ……

    • mengenai suami yang mentalak istrinya dalam keadaan emosi, bisa merujuk kepada pendapat Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyah dalam Ighatsatul Lahafan fi Hukmi Thalaq al-Ghadban, beliau menyebutkan bahwa marah ada tiga bentuk:
      pertama, seseorang yang marah tapi masih bisa merasakan kesadaran akalnya. dalam hal ini tindakan dan ucapan seseorang masih dianggap dan sah.
      kedua, marah yang memuncak sehingga menutupi akalnya. dalam hal ini para ulama sepakat bahwa tindakan dan ucapan seseorang dalam hal ini tidak dianggap dan tidak bernilai, baik dalam urusan muamalah, nikah, dll.
      ketiga, marah yang tingkatannya antara pertengahan diatas. dalam hal ini para ulama masih berselisih pendapat, namun Ibnu Qoyyim menganggap marah dalam kondisi ini tetap tidak dianggap tindakan dan ucapannya.
      Akan tetapi, terlepas dari itu semua. seseorang sebaiknya tidka gegabah dalam melakukan sesuatu. apalagi yang berkaitan dengan urusan talak seperti ini, tentu harus dengan sebuah pertimbangan yang serius sekali. karena walaupun talak dibolehkan oleh Allah SWT, namun tetap saja talak merupakan perkara yang paling dibenci oleh Allah SWT.
      untuk pertanyaan kedua, apabila benar-benar tidak tahu sama sekali, maka tidak turun talak, tapi dengan catatan seseorang tersebut tidak tahu sama sekali.
      Wallahu A’lam..

  7. Bgaimna klo suami istri sma2 kerja,tp suami ga pernah kasih nafkah lahir? Istri dah mencoba bertahan berhrp suami sadar akan kewajibannya.. Tp mkin lama makin parah ga ad kemesraan.apakah istri berhak mengajukkan gugatan cerai?

    • sebaiknya dibicarakan secara baik-baik terlebih dahulu dengan suaminya, jangan terburu-buru untuk mengajukan gugatan cerai. dalam sebuah hadist disebutkan bahwa perkara halal yang paling dibenci Allah adalah Talak/ cerai. jadi sebaiknya menjaga hubungan tetap harmonis antara suami dan istri. akan tetapi, jika tidak ada jalan keluar lagi maka bisa mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama karena alasan suami tidak memenuhi kewajibannya sebagai suami untuk memenuhi nafkah lahir terhadap suaminya. suami yang tidak memenuhi kewajibannya bisa dikategorikan telah melanggar ta’lik talak sebagaimana yang ditetapkan dalam kompilasi Hukum islam.

  8. ass..saya mau crita skaligus brtnya, suami saya sering berkata setiap kali ada pertengkaran .”pulang saja kepada org tuamu, saya titipkan dulu.
    Itu termasuk talak apa bukan? mohon jawabannya.

    • Secara Hukum positif yang berlaku di Indonesia, kata-kata tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pernyataan talak. karena menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pernyataan talak hanya sah dan mempunyai akibat hukum jika diucapkan dalam persidangan di Pengadilan. dan sebagai muslim maka persidangannya adalah di pengadilan Agama. Oleh karena itu, selama tidak ada talak di depan persidangan pengadilan agama, pasangan suami istri tidak bisa dikategorikan telah bercerai dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: